Wednesday, 24 May 2017

Sholawat Hakikat Qonaah Dalam Islam


Hakikat Qonaah Dalam Islam – Salah seorang tokoh bijak bestari berkata: “Keceriaan dunia saat kau merasa qonaah dengan rizki yang ada padamu. Mendung menyelimuti dunia saat kau memendungkan jiwamu dengan rizki yang tidak ada padamu”.

Qonaah adalah rido dengan apa yang sudah Alloh berikan, walaupun sedikit dan tidak menoleh kepada bagian yang dimiliki orang lain.  Sikap qonaah adalah anugerah yang Alloh swt berikan kepada orang mukmin yang jujur dan serius dengan amal solehnya.

Alloh subhanahu wata’ala berfirman:
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dan dia adalah seorang mukmin, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Qs. An-Nahl [16]: 97)

Menurut Ali bin Tholib rodhiyallohu’anha dan al-Hasan al-Basri, arti “hayatan toyyibah” [kehidupan yang baik] adalah “jiwa qonaah ”.

Di antara doa yang dipanjatkan oleh kaum muslimin adalah doa mendapatkan kebaikan di dunia dan di akherat. Alloh subhanahu wata’ala berfirman,
“Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”. (Qs. Al-Baqoroh [2]: 201)

An-Nasafi dalam kitabnya “Madarik at-Tanzil” mengatakan: “Kebaikan di dunia dan di akhirat mencakup: mendapatkan maaf Alloh dan ampunan-Nya, atau mendapatkan harta dan surga, atau mendapatkan pujian makhluk dan keridoan Alloh subhanahu wata’ala, atau memiliki iman dan mendapatkan rasa aman, atau memiliki keikhlasan dan mendapatkan pembebasan dari api neraka, atau hidup dalam sunnah dan mendapatkan surga, atau memiliki jiwa qonaah dan mendapatkan syafaat”.

Qonaah juga merupakan ciri kehidupan orang-orang abror (kaum mukmin yang berbakti). Alloh subhanahu wata’ala berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam Na`im (surga yang penuh kenikmatan).” (Qs. Al-Infitor [83]: 13)

Salah satu tafsir yang dikemukakan oleh ar-Rozi dan an-Naisaburi tentang na`im (kenikmatan) dalam ayat ini adalah kenikmatan dunia dengan memiliki jiwa qonaah.

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam menggolongkan orang yang memiliki jiwa qonaah sebagai muslim yang akan meraih keberuntungan. Abdulloh bin `Amr bin al-`Ash rodhiyallohu’anha meriwayatkan bahwa Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung seorang yang masuk Islam, kemudian mendapatkan rizki secukupnya dan Alloh menganugrahkan kepadanya sifat qana’ah (merasa cukup dan puas) dengan rezki yang Alloh berikan kepadanya”. (HR. Muslim, no. 1054)

Hadits yang mulia menunjukkan besarnya keutamaan seorang muslim yang memiliki sifat qana’ah, karena dengan itu semua dia akan meraih kebaikan dan keutamaan di dunia dan akhirat, meskipun harta yang dimilikinya sedikit.

Sifat qana’ah adalah salah satu ciri yang menunjukkan kesempurnaan iman, karena sifat ini menunjukkan keridhaan orang yang memilikinya terhadap segala ketentuan dan takdir Alloh, termasuk dalam hal pembagian rizki. Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda, “Akan merasakan kemanisan (kesempurnaan) iman, orang yang ridha kepada Alloh Ta’ala sebagai Tuhan-nya dan Islam sebagai agamanya serta Muhammad sebagai rosulnya”. (HR. Muslim, no. 34)

Sedangkan yang dimaksud dengan rizki dalam hadis ini adalah rizki yang diperoleh dengan usaha yang halal, karena itulah yang dipuji dalam Islam.

Arti sabda beliau: “…yang secukupnya” adalah yang sekedar memenuhi kebutuhan, serta tidak lebih dan tidak kurang, inilah kadar rizki yang diminta Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam kepada Alloh untuk keluarga beliau, sebagaimana dalam doa beliau: “Ya Alloh, jadikanlah rizki (yang Engkau limpahkan untuk) keluarga Muhammad Qutan“. (HR. al-Bukhari, no. 6095 dan Muslim, no. 1055)

Arti qutan adalah rizki yang sekedar bisa memenuhi kebutuhan hidup/seadanya.

Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya kemewahan dunia (harta), akan tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)”. (HR. al-Bukhari, no. 6081 dan Muslim, no. 120)

Dalam hadis lain, Rosululloh sholallohu’alaihi wasallam bersabda: “…Ridolah (terimalah) pembagian yang Alloh tetapkan bagimu maka kamu akan menjadi orang yang paling kaya (merasa kecukupan)”. (HR. at-Tirmidzi, no. 2305 dan Ahmad 2/310)

Al-Munawi rohimahulloh mengatakan: “Maksudnya kekayaan terpuji itu bukan banyak harta dan perabotan. Sebab, banyak sekali orang dibuat kaya oleh Alloh, namun kekayaannya yang banyak itu tidak bermanfaat baginya dan ia berambisi menambah kekayaannya, tanpa peduli dari mana sumbernya. Ia seperti orang miskin, karena begitu kuat ambisinya.

Orang ambisius itu miskin selama-lamanya. Tapi, kekayaan terpuji dan ideal menurut orang-orang sempurna adalah kekayaan hati. Di riwayat lain, kekayaan jiwa. Maksudnya, orang yang punya kekayaan jiwa merasa tidak membutuhkan jatah rizkinya, tanpa memburu dan memintanya dengan menekan. Barangsiapa dijaga jiwanya dari kerakusan, maka jiwanya tentram, agung, mendapatkan kebersihan, kemuliaan dan pujian. Itu semua jauh lebih banyak ketimbang kekayaan yang diterima orang yang miskin hati. Kekayaan membuat orang yang miskin hati terpuruk dalam hal-hal hina dan perbuatan-perbuatan murahan, karena kecilnya obsesi yang ia miliki. Akibatnya, ia menjadi orang kerdil di mata orang, hina di jiwa mereka dan menjadi orang paling hina”.

Jika seseorang punya harta hingga berjuta-juta, atau milyaran, bahkan triliunan, namun ia tidak qona`ah dengan rizki yang diberikan Alloh subhanahu wata’ala kepadanya, maka ia hidup terengah-engah seperti binatang buas dan menjadikan hartanya sebagai tuhan baru. Sungguh, ia orang miskin sejati, karena orang miskin ialah orang yang selalu tida punya harta dan senantiasa merasa membutuhkannya.

Dikisahkan, seseorang berkata kepada orang zuhud, Ibrahim bin Ad-ham: “Saya berharap anda mau menerima jubbah dariku ini”. Ibrahim bin Ad-ham berkata: “Kalau anda kaya, saya mau menerima hadiah ini. Jika anda miskin, Saya tidak mau menerimanya”. Orang itu berkata: “Saya orang kaya”. Ibrahim bin Ad-ham bertanya: “Anda punya jubbah berapa?” Orang itu menjawab: “2000 jubah”. Ibrahmi bin Ad-ham kembali bertanya: “Apakah anda masih ingin memiliki 4000 jubah?”Orang itu menjawab: “Ya tentu”. Ibrahim bin Ad-ham berkata: “Kalau begitu anda miskin (karena masih memburu jubbah lebih banyak lagi). Saya tidak mau menerima hadiah jubbah dari mu”. (Al-Bidayah wan Nihayah: 10/138)

Sa`ad bin Abi Waqqos rodhiyallohu’anha pernah berkata kepada putranya:
“Wahai anakku, jika engkau mencari kekayaan, carilah dalam qonaah, karena qonaah adalah harta yang tak pernah punah. Hati-hati dengan sikap tamak, karena sikap tamak adalah kefaqiran yang akan datang.”.

Seorang Arab desa pernah bertanya kepada Penduduk Basrah, “Siapa pemimpin desa ini?” Mereka menjawab: “al-Hasan”. Orang Arab desa itu bertanya lagi: “dengan apa dia mampu menguasai penduduk desa ini?” Mereka menjawab: “Masyarakat sangat butuh dengan ilmunya, sedangan dia tidak butuh terhadap dunia yang dimiliki masyarakatnya”.